i am a MusLim

and there is no where eLse i'd rather be..



Aku baru saja mengetuk pintu utama pondokanku kala itu, ketika seorang anak kecil, usianya sekitar 3 tahun menaiki tangga menghampiriku. Tiba di dekatku, ia bertanya dengan renyah, “kakak mau masuk, kakak?” seperti ia telah mengenalku dekat, tanpa segan.
“iya, dek.” Jawabku.
Ia pun ikut mengetuk pintu dan memberi salam.
“sepertinya tidak ada orang, dek, di dalam. Ayo kita lewat sana saja.” Aku menunjuk pintu utama yang sebelah kiri yang memang jarang dikunci. Kali ini aku harus berjalan agak jauh untuk sampai ke kamarku, karena harus memutar di blok sebelah.
Ku lihat anak itu melangkah riang mengikutiku. Memegang ujung jilbabku yang sudah agak kusut karena aktivitasku hari itu, sekali lagi tanpa segan, seakan sudah pernah bertemu denganku sebelumnya.
“kamar kakak di mana?” tanyanya.
Belum sempat aku menjawab, ia berlalu mendahuluiku dan memegang gagang pintu kamar yang ada di depannya kemudian kembali bertanya, “di sini?”
“bukan, dek.”
Aku sedikit tertawa melihat tingkahnya yang menghampiri tiap kamar dan menanyakan hal yang sama. Aku pun harus menjawab lima kali dengan jawaban yang sama pula.
Setelah melewati dapur, anak itu kembali menemukan pintu kamar, dan kembali mengulang pertanyaannya. “kamar kakak di mana? Di sini?”
“iya, dek.” Ada segurat senyum di bibirnya, seperti berteriak lega, ‘akhirnya…’. Aku kemudian merogoh tasku mencari kunci kamarku. Sejenak ku tatap anak kecil itu memperhatikanku, melompat-lompat kecil seperti tak sabar ingin menemukan kunci yang tak kunjung tersentuh tanganku. Dan ia kembali tersenyum riang ketika ia melihat sebuah kunci kini berada di genggamanku.
Ia sontak menghambur dengan suasana kamarku yang baru ku tempati dua pekan ini sesaat setelah pintu ku buka. Segala penatku seharian di kampus tiba-tiba kurasa luluh bersama kuletakkannya tasku di atas tempat tidur, melihat anak kecil itu, sibuk dengan hal-hal baru yang ia temukan di kamarku.
“Nama adek siapa?”
“Illang.” Jawabnya tanpa menoleh padaku, matanya tertarik pada laptop yang ku letakkan di atas printer.
“Rumah adek di mana?”
“Di sana.” Illang bangkit dari duduknya dan beranjak menuju jendela menunjuk sebuah rumah di depannya. Kemudian ia kembali ke tempatnya duduk tadi.
“Kakak, ini apa?” tanyanya sambil mengetuk-ngetuk laptopku dengan telunjuknya.
“Ini laptop, dek.”
“Kakak, ini apa?” telunjuknya kini mengarah ke printer,
“Kalau ini namanya printer.”
“Oh…” ia seakan mengerti dengan apa yang aku katakan.
“Adek, mau biskuit?” aku mengeluarkan sebungkus besar biskuit coklat yang baru ku beli dalam perjalanan pulang dari kampus tadi.
“Mana?” Tanya Illang tak sabar.
“Sini, duduk manis di dekat kakak, baru kakak kasih.” Illang mengikuti instruksiku, duduk di hadapanku menungguku membuka bungkus biskuit.
Aku tersenyum sendiri menatap anak itu. Ingin rasanya kembali ke masa sepertinya, yang melangkah ringan tanpa beban dan bermain sesuka hatinya tanpa penat. Aku ingin sekali melintasi kembali garis perjalanan itu.
“Kakak, aku mau minum.” Katanya menyadarkanku dari lamunanku.
Tak berapa lama, Muti, teman sepondokanku datang. Langkahnya terhenti ketika melewati depan kamarku lantaran melihat Illang. Aku tak heran ketika ia menyapa akrab Illang karena ia memang telah jauh lebih dulu berada di pondokan ini.
“Illang sudah lama di sini?” Tanya Muti padaku.
“Nggak, baru kok.”
Sementara Illang sibuk dengan imajinasinya, Muti menceritakan banyak hal tentangnya padaku. Hingga aku tersentak pada kalimat yang membuat denyut jantungku yang tak beraturan, berdetak sederas hujan di luar sana.
“Ayahnya sudah meninggal.” Kata Muti.
“Kalau ia ditanya ayahnya di mana, ia akan menjawab ‘di atas’.” Lanjutnya.
“Illang, ayahmu mana?” Tanya Muti pada Illang, hanya ingin memperdengarkan jawabannya padaku.
Illang benar-benar menjawab, “di atas” dengan polosnya.
I’m speechless.  Anak itu, anak sekecil itu, harus kehilangan saat-saat yang akan ia rindukan. Kehilangan saat-saat bersama sang ayah di usia yang masih sangat kecil, di usianya yang belum mengerti apa-apa.
Di saat anak-anak lain merekam pelajaran dari ayah mereka, bermain bersama ayah mereka, dan dilindungi oleh ayah mereka, tak bisa ku bayangkan bagaimana Illang menyusuri jalan sendirian bersama ibunya yang juga tampak sangat rapuh. Tapi aku tau apa?  Aku hanya bisa beretorika dengan kecamuk pikiranku sendiri. Bukankah ada Allah? Allah-lah yang menggenggam ruh tiap kita, mengatur taqdir tiap kita. Allah pasti telah menyiapkan yang terbaik untuk anak sekecil itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Leave your comments, yuk :D