i am a MusLim

and there is no where eLse i'd rather be..





dalam gamang memijak dunia

semakin ku melangkah

semakin ametis itu menghujan bak maneuver

mengguncang limbung sebelum ku sempat bertambat

kabut yang mengembang itu menjadi lebih tebal

dan kini

ku terjebak sendiri dalam intuisi

dan ketakutan yang tak ku mengerti

aku

mengerdil di kekosongan...





berdiri membeku di selasar berongga yang tak bertepi

merasakan desiran angin membenam jutaan aksen

hingga samar-samar...

aku takut,

aku takut pusaran beliung rasa takut itu memeluk

merengkuh jemariku yang kaku...

penat setiap detik dari sisa hidupku

menunggu kabut terkuak

aku semakin tirus jenuh





menyusuri jalan di tengah jutaan wajah yang  tak ku tahu

membekas goresan yang juga tak ku tahu

terkadang menjadikan penat yang tertanam, berakar

membuncah muak

karena sepi

yang ku tahu...





andai kau tau

melangkah dengan kaki yang terluka

membuat semua jalan tidak berujung

berat,

menumpuk di pundakku bak aku kuat

tidak, kawan

kali ini awan klandestin tidak membawa hujan





untuk-Mu

ada rindu yang tak terperikan..

betapa diri ini bagai teratai di telaga kering bila sedetik saja kehilangan cahaya-Mu

ku terkulai tak mengira tubuhku terlindas roda kendaraanku sendiri..

Tuhanku..
may You watch over me, always...




pelangi selalu menampakkan dirinya tiap kali hujan berhenti..

ku yakin pelangi yang sama akan hadir setelah kemelut ini usai!

bahkan lebih indah..

Allah telah berjanji dalam Kitab-Nya akan ada kemudahan setelah kesulitan..

dan insya Allah ku bersabar dan bersyukur dengannya..





merenungi satu matahari yang pergi
yang semakin menjauh
yang membawa sejuta dilema
namun berbekas
meninggalkan berbagai tanda tanya
menyimpan banyak goresan
dan luka lebam