i am a MusLim

and there is no where eLse i'd rather be..



Aku sudah sangat mengantuk ketika ku pencet tombol handphone ku untuk melihat jam. Jam digitalnya menunjukkan pukul 00.30. Tanganku juga sudah amat sangat pegal banget sekali karena menulis. Tapi tugasku belum selesai, masih 3 halaman tanpa tambahan sejak pukul 11 tadi. Aku merasa sudah mengerjakan banyak sekali padahal yang selesai itu baru 1 dari 8 nomor.. Nasyid dari headset yang menempel di telingaku ku dengar tinggal sayup-sayup. Tapi aku memutuskan untuk tetap searching2 jawaban tugas sambil sesekali melirik facebook, twitter, blog, netlog, salingsapa, kickandy dan (hah.. baru nyadar akunku banyak).
Entah bagaimana ceritanya, aku yang tadinya searching artikel tentang menyusun menu makanan tugas mata kuliah dasar-dasar gizi, merambat menjadi mencari histori teman #eh..?, hingga friendster, akun jejaring sosial pertamaku selain ym sejak aku mengenal internet, yang ternyata tampilannya sudah baru. Terakhir ku buka kapan, sudah lupa.



Aku Cemburu..

Aku cemburu
Cemburu pada mereka yang telah berani memilih walau perih

Aku cemburu
Cemburu pada mereka yang tetap istiqomah walau tak mudah

Aku cemburu
Cemburu pada mereka yang kokoh walau tergopoh

Aku cemburu
Cemburu pada mereka yang tetap berjuang walau tak selalu dalam kesenangan




Suatu hari.
“ aku mengenalnya ”

Di suatu hari yang lain.
“ aku begitu mencintainya dan rasa cintaku kian hari kian bertambah. ”

Di suatu hari yang lain lagi.
“ ku dapati goresan-goresan dalam tatapan kesempurnaanku terhadapnya. Hingga akhirnya rasa cinta itu mulai berkurang, sedikit demi sedikit terhisap ketidaksukaan, terhapus meski membekas sedikit lebam. 


Lama tak mengunjungimu kawan, maafkan aku yah (ʃƪ). Hhh.. Bukan berarti melupakan dirimu. Hanya saja tak ada waktu, atau aku yang belum bisa me-manage waktu dengan baik.

Hari ini mungkin mukaku sudah kenyang berolah raga hanya dengan membaca postingan-postingan lamaku. Senyum-senyum sendiri lah, dahi mengerut, melotot sampai menguap, hehe. Tak ku sangka tulisanku kebanyakan yang galau. Asli! Galau abis.



engkau dan gerhana..


menutup dirimu di malam ini dengan rapatnya..


ada sesuatu di sana,


merengkuh jauh peLuh yang meLuruh cahaya,


dan jumpai ku waLau aku tak dekat..


Laksana hujan, dengan kelembutan siraman dan curahannya, ada masanya ia menyuburkan tanah yang gersang dan mengidupkan bumi yang mati. gerimis tipis yang menyirami sebidang tanah panas dan keras terasa artistik. tetapi apakah tidak bernama hujan ketika ia terjun dengan lebat dan dahsyat dari langit-langit, lalu mematahkan ranting, cabang, dan batang-batang pepohonan. melipat rapat hijaunya dedaunan. penjual es cendol dan es campur barangkali hatinya kecut dan wajahnya cemberut. tetapi hujan tetaplah hujan. hujan adalah rahmat bagi semesta alam, dari Allah Yang Maha Penyayang. akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui..

Oleh ust. Rappung Samuddin, Lc

Pengajian umum @Masjid Baiturrahim, Bila Selatan, Watansoppeng



Doa merupakan ibadah yang begitu ringan dari yang lain, dan pasti dikabulkan. Pasti dikabulkan siapapun dia. Akan tetapi disebutkan dalam hadits bahwa pengabulan doa Allah terhadap doamu, ada pada satu di antara tiga kemungkinan:



Petang datang bersamaan dengan selesainya kuliahku hari ini. Ku rasakan penat yang teramat sangat saat menyusuri jalan yang membawaku pulang ke rumah. Ku angkat wajahku yang lelah menatap barat, dan ku lihat matahari sebentar lagi mengobati kerinduan bumi. Sejenak, ku merindukan kembali suasana senja di kampung halamanku yang tak kutemui di sini; ribuan kalong mendekor langit yang sudah jingga. Seperti bercak-bercak hitam dari kejauhan.



Oleh : Ustadz Muh. Ihsan Zainuddin, Lc.M.Si.

Perjalanan hidup ini melelahkan..
ya,
sangat melelahkan.,
Betapa tidak,
di saat idealisme kita dihadapkan pada realita yang beraneka ragam corak dan warnanya,
kita harus bertahan..
karena kita tidak ingin tujuan hidup kita yang jauh ternodai dengan kepentingan sesaat..
Ini bukan soal halal atau haram terhadap dunia dengan segala keindahannya,
tapi soal menyikapinya agar tidak tergiur dan terpedaya olehnya..



Teruntuk saudariku
Yang kucintai karena Allah..

Terkadang ku lelah

Tapi perjalananku masih panjang

Masih sangat panjang..

Kembali..


Sebongkah deburan yang tak biasa


Melebur stanza yang dulu


Menjadi lebih tak berbentuk


Entah setitik


Atau segumpal siluet yang terengkuh senja


Terdekap jingga


Hingga dipeluk temaram





234 hari..

Berharap mendapat sesuatu dan melupakan sebongkah lalu di sini..

Tapi semua terasa kembali dekat..

Dan ternyata aku masih merindukannya..

Sangat merindukannya..





Tak ingin seperti ini

Hidup dalam lingkaran bayang-bayang detik lalu

Terperangkap gamang dan tak menentu

Kelu membatu


Benar-benar tak ingin seperti ini



Aku baru saja mengetuk pintu utama pondokanku kala itu, ketika seorang anak kecil, usianya sekitar 3 tahun menaiki tangga menghampiriku. Tiba di dekatku, ia bertanya dengan renyah, “kakak mau masuk, kakak?” seperti ia telah mengenalku dekat, tanpa segan.
“iya, dek.” Jawabku.
Ia pun ikut mengetuk pintu dan memberi salam.



Sejenak hujan meratap temaram titik mulanya

Dan pergi

Menghambur bersama jutaan lain

Menghentikan langkah yang tergesa..





Seperti sisa-sisa terik di senja

Ia juga menyisakan semburat tanda tanya

Yang nantinya

Akan lagi menjadi lipatan-lipatan sejarah

Tanpa jawab