i am a MusLim

and there is no where eLse i'd rather be..


Aku langsung asik memperhatikan titik-titik air yang jatuh tak beraturan dari payung yang tak lagi mengembang dalam genggamanku sesaat setelah duduk dalam pete-pete (angkot). Alhamdulillah dapat tempat favorit, eh bukan favorit sih. Sedikit tentangku, aku tidak sanggup naik kendaraan yang satu ini, kalaupun terpaksa paling sering duduk dekat pintu. :)
Rinai hujan masih sangat deras, bahkan beberapa jalan sudah berselimut banjir. Ku perhatikan sekelilingku. Penumpang-penumpang lain tak jauh-jauh beda modelnya denganku; tangan memegang payung yang basah.
“Kiri, Pak.” Pemilik suara itu segera turun sesaat setelah pete-pete berhenti.
Perempuan yang sepertinya masih seumuran denganku itu pun mengembangkan kembali payungnya yang masih basah, lalu melemparkan senyum sambil menyodorkan uang tiga ribu rupiah kepada supir pete-pete. Sempat ku dengar kalimat “terima kasih, Pak.” darinya sebelum pada akhirnya pete-pete membawaku kembali melaju bersamanya.

Pemandangan yang tak pernah ku lihat sebelumnya. Sama sekali tak pernah semenjak aku mengenal pete-pete dalam duniaku.
Aku mulai pusing dan mual. Yang paling ku inginkan saat ini adalah supir pete-pete ini ngebut dan aku bisa beristirahat di kamarku dengan segera. Tapi beberapa ruas jalan yang terdekap banjir justru menahanku di sini untuk waktu yang lama.
Pete-pete yang melambat menghentikanku menatap langit yang pucat memutih sebelum pada akhirnya ia berhenti. Awan-awan tebal tak kunjung bergeser, melainkan semakin tebal dan sepertinya akan menghitam lagi. Aku tertarik pada pemandangan yang ada di hadapanku lagi saat ini. Seorang anak laki-laki, usianya mungkin seusia dengan anak kelas 4 SD, dengan basah-basah ia membantu seorang perempuan paruh baya calon penumpang pete-pete yang sedang ku tumpangi mengangkat barang-barangnya yang tidak sedikit dan ringan ini. Ibu tadi langsung menyerahkan beberapa rupiah kepada anak itu seusai barang-barangnya berpindah ke dalam pete-pete. Tidak seperti cerita klasik yang ada di kepalaku; anak itu akan meraih uangnya, ibu itu akan naik ke pete-pete, momen itu selesai dan masing-masing akan meneruskan lembaran kehidupan masing-masing dengan melupakan apa yang baru saja terjadi. Tapi kenyataan yang ada di hadapanku berbeda, yang tertangkap oleh mataku adalah anak laki-laki itu mundur selangkah, memperbaiki mantel yang tidak menutup seluruh kepalanya dan melemparkan senyum kepada ibu tadi, kemudian berucap, “ndak usah mi, Bu. Terima kasih.” dan berlalu, kembali menuju tempatnya berjualan.
Ternyata di sini ada orang-orang hebat. Ya, di sini ada orang-orang hebat. Yang aku dan kacamataku mengira tak akan mendapatinya lagi di tengah-tengah bumi yang menua. Mari merenung dan belajar dari fakta yang hampir punah ini, dan jangan biarkan ia benar-benar memunah :')

0 komentar:

Posting Komentar

Leave your comments, yuk :D