Aku langsung asik memperhatikan
titik-titik air yang jatuh tak beraturan dari payung yang tak lagi mengembang
dalam genggamanku sesaat setelah duduk dalam pete-pete (angkot). Alhamdulillah
dapat tempat favorit, eh bukan favorit sih. Sedikit tentangku, aku tidak
sanggup naik kendaraan yang satu ini, kalaupun terpaksa paling sering duduk
dekat pintu. :)
Rinai hujan masih sangat deras, bahkan
beberapa jalan sudah berselimut banjir. Ku perhatikan sekelilingku.
Penumpang-penumpang lain tak jauh-jauh beda modelnya denganku; tangan memegang
payung yang basah.
“Kiri, Pak.” Pemilik suara itu segera
turun sesaat setelah pete-pete berhenti.
Perempuan yang sepertinya masih
seumuran denganku itu pun mengembangkan kembali payungnya yang masih basah,
lalu melemparkan senyum sambil menyodorkan uang tiga ribu rupiah kepada supir
pete-pete. Sempat ku dengar kalimat “terima kasih, Pak.” darinya sebelum pada
akhirnya pete-pete membawaku kembali melaju bersamanya.
Pemandangan yang tak pernah ku lihat
sebelumnya. Sama sekali tak pernah semenjak aku mengenal pete-pete dalam
duniaku.
Aku mulai pusing dan mual. Yang paling
ku inginkan saat ini adalah supir pete-pete ini ngebut dan aku bisa
beristirahat di kamarku dengan segera. Tapi beberapa ruas jalan yang terdekap
banjir justru menahanku di sini untuk waktu yang lama.
Pete-pete yang melambat menghentikanku
menatap langit yang pucat memutih sebelum pada akhirnya ia berhenti. Awan-awan
tebal tak kunjung bergeser, melainkan semakin tebal dan sepertinya akan
menghitam lagi. Aku tertarik pada pemandangan yang ada di hadapanku lagi saat
ini. Seorang anak laki-laki, usianya mungkin seusia dengan anak kelas 4 SD,
dengan basah-basah ia membantu seorang perempuan paruh baya calon penumpang
pete-pete yang sedang ku tumpangi mengangkat barang-barangnya yang tidak
sedikit dan ringan ini. Ibu tadi langsung menyerahkan beberapa rupiah kepada
anak itu seusai barang-barangnya berpindah ke dalam pete-pete. Tidak seperti
cerita klasik yang ada di kepalaku; anak itu akan meraih uangnya, ibu itu akan
naik ke pete-pete, momen itu selesai dan masing-masing akan meneruskan lembaran
kehidupan masing-masing dengan melupakan apa yang baru saja terjadi. Tapi
kenyataan yang ada di hadapanku berbeda, yang tertangkap oleh mataku adalah
anak laki-laki itu mundur selangkah, memperbaiki mantel yang tidak menutup
seluruh kepalanya dan melemparkan senyum kepada ibu tadi, kemudian berucap, “ndak
usah mi, Bu. Terima kasih.” dan berlalu, kembali menuju tempatnya berjualan.
Ternyata di sini ada orang-orang hebat.
Ya, di sini ada orang-orang hebat. Yang aku dan kacamataku mengira tak akan
mendapatinya lagi di tengah-tengah bumi yang menua. Mari merenung dan belajar
dari fakta yang hampir punah ini, dan jangan biarkan ia benar-benar memunah :')





0 komentar:
Posting Komentar
Leave your comments, yuk :D