Petang datang bersamaan dengan selesainya kuliahku hari ini. Ku rasakan penat yang teramat sangat saat menyusuri jalan yang membawaku pulang ke rumah. Ku angkat wajahku yang lelah menatap barat, dan ku lihat matahari sebentar lagi mengobati kerinduan bumi. Sejenak, ku merindukan kembali suasana senja di kampung halamanku yang tak kutemui di sini; ribuan kalong mendekor langit yang sudah jingga. Seperti bercak-bercak hitam dari kejauhan.
Kali ini dari jendela kamarku aku menatap timur. Ku lemparkan saja pandanganku ke mana ia mau. Rumah tetangga yang belum selesai dibangun, genangan air hujan di jalan, orang yang lewat, hingga rumput yang tertiup angin, dan pada akhirnya berhenti pada satu titik; pelangi, yang telah lama tak ku lihat lagi. Subhanallah sangat cantik, cantik sekali. Lama aku mengagumi keanggunannya hingga akhirnya ia hilang. Menjauh dipeluk awan yang menghitam, terisap langit yang juga semakin menghitam.
Di penghujung dzikir petangku, aku teringat anak kecil itu. Inilah yang akan ku ceritakan lebih jauh.
Namanya Qonitah, batita usia 2 tahun. Pertemuanku dengannya siang tadi sangat singkat, namun sangat membekas. Entah, aku harus bahagia atau justru iba. Aku tak tahu. Tapi yang jelas, aku mendapat pelajaran yang sangat penting darinya.
Riuh ba’da dzuhur di masjid medik fakultas kedokteran, aku rehat bersama beberapa akhwat temanku setelah shalat, duduk bersandar di tembok bagian belakang masjid menenangkan kepenatan karena tidak ada dosen yang masuk di dua mata kuliahku sejak pagi tadi (dan akan lebih kecewa lagi jika mata kuliah yang terakhir nanti dosennya juga tidak ada). Ku perhatikan kesibukan orang-orang di dalam masjid. Orang-orang keluar-masuk, sebagian ada yang baru akan shalat, sebagian lagi telah selesai. Ada yang terburu-buru keluar mungkin takut terlambat masuk kuliah. Ada yang tiduran, ada yang memperbaiki kerudungnya, ada juga yang ngobrol, sibuk dengan hape dan laptop, bahkan ada yang makan siang.
Beberapa saat kemudian, saat masjid sudah mulai lengang dan sepi, saat ac sudah mulai terasa kembali. Aku masih duduk tak berubah posisi di tempat tadi sambil menunggu jadwal kuliahku yang terakhir untuk hari ini. Lalu mataku tertarik pada seorang perempuan tirus berkerudung yang baru masuk dan duduk di dekat kami. Usianya mungkin sekitar 24 atau 25 tahun. Ia menggendong anak kecil yang sangat lucu, bersih dan menggemaskan.
Entah siapa yang memulai. Aku, temanku, dan perempuan tadi-aku lupa menanyakan namanya, mungkin ia adalah tantenya Qonitah, aku tidak tahu dan juga tidak menanyakannya-sudah terlibat dalam satu perbincangan. Dari penuturannya, dapat ku simpulkan bahwa ibu dari Qonitah adalah seorang dokter yang juga seorang dosen. Ayah Qonitah sekarang bekerja di luar kota. Qonitah masih anak satu-satunya dan hari ini adalah ke sekian kalinya ia harus kembali terpisah dari orangtuanya dan dijaga oleh oranglain karena alasan pekerjaan.
Tak butuh waktu lama untuk akrab dengan Qonitah, kami bermain layaknya kami telah kenal sejak lama. Ia anak yang tidak rewel, kepalanya yang terbentur beberapa kali di tembok dan di papan tulis yang ada di masjid tidak ia pedulikan sama sekali, seperti tidak merasakan sakit bahkan terus bermain dengan kami. Dia sangat aktif. Tawanya yang ringan dan riang sedikit menghilangkan kepenatan dunia kampusku hari ini.
Ku perhatikan ada yang berbeda dari Qonitah. Ekspresinya berubah tiap kali mendengar suara pintu dibuka, dan ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut berasal. Awalnya aku menganggapnya biasa saja, mungkin ia hanya kaget karena suara pintu itu memang cukup keras, pikirku kala itu. Tapi belakangan ku ketahui dari penuturan perempuan yang mendapat amanah untuk menjaga Qonitah, bahwa Qonitah sedang menunggu seseorang, ia sangat ingin menemukan ibunya, menginginkan ibunyalah yang ada di sana membuka pintu itu.
Benar saja, ada kata “ma..” dalam ekspresi yang sama tiap kali ada orang yang membuka pintu. Dan tiap kali itu juga, tiap kali yang ia dapati yang membuka pintu itu bukan ibunya, ia akan melempar apa saja yang ada dalam genggamannya, sambil menangis. Sesekali ia merengek ingin keluar, sambil memanggil ibunya.
Entah, ku rasakan sakit yang teramat. Aku tak ingin anakku seperti itu nantinya.
:: tapi bagaimanapun, ia tetaplah ibu.
“Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman 14)
“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (al-Isra’ 23)





0 komentar:
Posting Komentar
Leave your comments, yuk :D