cahaya megah sang penerang bumi
dihalang benteng gumpalan air kelabu
Terbitkan Entri
seperti tersedot, seperti terhisap
kian lama kian hilang
ada ketakutan yang memeluk
cemas kehilangan cahaya megah itu
tapi benteng ini terlalu tinggi tuk dipanjat
terlalu kokoh tuk dirubuhkan
berontakpun tak kuasa
hanya terdiam
terpaku
seperti dibelenggu
lalu menangis sejadi-jadinya
seperti dibelenggu
langit menjadi runtuh
menumpahkan jutaan buliran peluru
menyerang tubuhku
tak memberi kesempatan tuk berlindung
ataupun cuma sekedar tuk berteduh
hanya tertunduk
tulang-tulangku seperti remuk
dan aku menangis sejadi-jadinya
seperti dibelenggu
tapi tiba-tiba aku terhenyak
dibom bardir keterkejutan
benteng-benteng megah itu luluh bersama habisnya peluru
bersama remuknya tubuh
mata yang masih tergenang tangis
terbelalak menyaksikan megahnya cahaya
perlahan menyisir tiap inci yang ada
bahkan lebih indah
ia membawa warna
inikah akhirnya?
aku malu pada-Nya..




0 komentar:
Posting Komentar
Leave your comments, yuk :D